
Ada hal yang selalu terasa berbeda setiap kali Idul Adha datang. Bukan hanya suasananya, tetapi juga ruang refleksi yang ikut hadir bersamanya. Di tengah ritme hidup yang berjalan cepat, Idul Adha seperti mengajak kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk pusara kehidupan untuk melihat kembali ke dalam diri sendiri, tentang nilai apa yang sedang kita pegang dan arah seperti apa yang sedang kita bangun dalam hidup.
Semakin bertambah usia, saya selalu mencoba untuk memaknai dan mulai memahami bahwa hidup tidak terlalu banyak dibentuk oleh satu keputusan besar. Justru lebih sering dibentuk oleh keputusan-keputusan kecil yang terus kita ulang dalam keseharian. Cara kita menyikapi masalah dan situasi, menjaga amanah, mengelola emosi, berpikir (thinking), bernalar (reasoning), dan bersikap. Hal-hal itu terlihat sederhana, tetapi dari situlah karakter seseorang sebenarnya dibentuk. Karena sejatinya hal-hal itulah sepenuhnya kendali ada dalam diri kita sendiri.
Saya pernah mendengar sebuah kalimat bahwa pemimpin dibentuk dari keputusan-keputusan kecil kehidupan yang ia ambil. Semakin dipikirkan, semakin terasa relevansinya. Kepemimpinan bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba ketika seseorang memiliki otoritas. Ia tumbuh dari kebiasaan menjaga integritas, kemampuan mengelola diri, dan konsistensi memegang nilai dalam situasi apa pun.
Karena itu, kisah Nabi Ibrahim AS terasa sangat relevan untuk direnungkan, bukan hanya dalam konteks ibadah, tetapi juga dalam pembentukan karakter dan kepemimpinan. Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putranya, yang diuji sebenarnya bukan sekadar kesediaan untuk berkorban. Yang diuji adalah ketundukan hati dan kemampuan menempatkan nilai di atas kepentingan pribadi.
Allah SWT berfirman:
“Maka ketika anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersamanya, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Ia (Ismail) menjawab: ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.’”
(QS. Ash-Shaffat: 102)
Dari kisah itu, saya merasa Idul Adha membawa satu pelajaran penting yang sering luput kita sadari, bahwa hidup tidak bisa hanya dibangun dengan orientasi menerima.
Sejak kecil, banyak dari kita terbiasa diarahkan untuk mencapai sesuatu. Mendapatkan nilai yang baik, pekerjaan yang baik, penghasilan yang lebih besar, posisi yang lebih tinggi. Semua itu wajar. Namun tanpa disadari, orientasi untuk terus menerima kadang membuat hidup terlalu berpusat pada diri sendiri. Kita mulai mengukur banyak hal dari apa yang berhasil dimiliki, dicapai, atau dikumpulkan.
Padahal hikmah kurban justru mengajarkan hal yang sebaliknya, yaitu tentang melepaskan, tentang memberi, dan tentang menyadari bahwa tidak semua hal harus kita genggam untuk diri sendiri. Dan memberi tidak selalu berbicara tentang materi. Kadang memberi hadir dalam bentuk perhatian, kesempatan, keteladanan, atau kesediaan dan ketulusan untuk membantu orang lain bertumbuh.
Menariknya, semakin seseorang belajar memberi, biasanya ia juga menjadi lebih lapang dalam menjalani hidup. Tidak mudah merasa kurang, tidak terlalu sibuk membandingkan diri, dan tidak terlalu melekat pada hal-hal yang sifatnya sementara.
Karena memberi mengubah cara pandang seseorang terhadap hidup. Ia mulai melihat bahwa nilai diri tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimiliki, tetapi juga oleh manfaat yang bisa dihadirkan untuk orang lain dan semesta.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)
Hadis ini sederhana, tetapi sangat kuat jika dijadikan prinsip dalam kehidupan dan kepemimpinan. Sebab pada akhirnya, kepemimpinan bukan tentang seberapa besar kuasa yang dimiliki, tetapi tentang seberapa besar manfaat yang bisa diberikan. Pemimpin yang baik biasanya tidak sibuk membangun pusat pada dirinya sendiri. Ia fokus membangun orang-orang di sekitarnya.
Ia hadir membawa rasa aman, arah, dan keteladanan. Dan semua itu tidak lahir dari proses yang instan. Dibutuhkan kemampuan untuk mengelola ego, menahan kepentingan pribadi, serta keberanian mengambil keputusan dan sikap yang tidak selalu nyaman.
Mungkin karena itu Idul Adha dan ibadah haji memiliki pesan yang sangat dalam tentang kehidupan. Di tanah suci, jutaan manusia datang dengan pakaian yang sama, meninggalkan atribut duniawi yang selama ini sering dibanggakan. Jabatan, status sosial, kekayaan, dan identitas pribadi seakan dilepaskan sejenak.
Di hadapan Allah, semua kembali menjadi hamba. Dan di situlah manusia diingatkan bahwa semakin tinggi posisi seseorang, seharusnya semakin rendah hatinya. Sebab pada akhirnya, kepemimpinan bukan tentang seberapa tinggi seseorang berdiri di hadapan manusia, tetapi tentang seberapa tunduk ia di hadapan Allah.
Karena itu, Idul Adha bukan hanya tentang ritual penyembelihan hewan kurban. Ia adalah pengingat bahwa ada hal-hal di dalam diri yang juga perlu “disembelih”: ego yang terlalu besar, rasa ingin selalu diprioritaskan, kesombongan, dan keterikatan berlebihan pada dunia. Hal ini bukan untuk menjadikan kita bermalasan, justru ini adalah bagian dari ghirah untuk membangun energi positif guna menapaki tangga yang lebih tinggi dan manfaat untuk berbagi yang lebih luas.
Sebab sering kali yang paling berat untuk dikorbankan bukan apa yang kita miliki, tetapi apa yang selama ini melekat dalam diri kita sendiri. Mungkin di situlah letak salah satu hikmah terbesar Idul Adha. Bahwa manusia yang matang bukan terbatas pada manusia yang berhasil mencapai banyak hal, tetapi manusia yang mampu melapangkan hati, menundukkan ego, dan menjadikan hidupnya bermanfaat bagi sesama.
Pada akhirnya, yang akan paling membekas dari hidup kita bukanlah apa yang berhasil kita kumpulkan, melainkan apa yang berhasil kita ikhlaskan dan kita berikan.
Selamat Idul Adha 1447 H.
Semoga Allah menerima kurban kita, membersihkan hati kita dari ego dan kesombongan, serta membimbing kita menjadi pribadi yang lebih bijak dalam memimpin, lebih tulus dalam memberi, dan lebih dekat kepada-Nya dalam setiap langkah kehidupan.
Jakarta, 27 Mei 2026/ 10 Dzulhijah 1447H
Rendy Artha







