
Kabar duka kembali terdengar di Kota Jogja, kota yang dikatakan sebagai miniatur Indonesia, kota yang dikatakan sebagai kota yang ramah dan bahagia, namun masih ada keadaan yang tidak ramah. Kembali terjadi kasus pembacokan dan lagi-lagi melibatkan anak muda yang usianya masih begitu belia, yang mungkin di rumah masih sering berkata, “mak, maeme lawuhe opo?” –mak makannya pake lauk apa?- atau “mak, jaluk sangune” –mak, minta uang sakunya- atau kalimat lain yang sifatnya masih mbok-mboken –anak mami-. Sangat miris untuk dibayangkan bagaimana kondisi yang terjadi saat situasi pembacokan, orang yang sama-sama tidak saling kenal hanya dipicu karena sesuatu hal yang sepele tiba-tiba langsung dihunus pedang atau clurit.
Masuk akal? Tentu tidak sama sekali bagi yang akalnya sehat, tapi mungkin bagi yang akalnya sakit begitu masuk akal. Remaja belasan tahun malam-malam keluar di jalanan. Sudah banyak pakar menganalisa kasus klitih, saya yang hanya sebuah ‘butiran debu’ dengan ilmu yang begitu sempit ini akhirnya juga tergelitik untuk menulis. Apapun analisanya, semua bagus dan saatnya kita kembali merapatkan barisan menjadikan Jogja yang istimewa.
Iseng-iseng saya search di google tentang apa itu arti klitih, dan mesin pencari canggih ini mendifinisikan, “klitih adalah salah satu bentuk anarkisme remaja yang sekarang sedang marak di Yogyakarta. Klitih identik dengan segerombolan para remaja yang ingin melukai atau melumpuhkan lawannya dengan kekerasan. Ironisnya klitih juga sering kali melukai lawannya dengan benda-benda tajam seperti pisau, gir, pedang samurai, dll.” Membaca definisi ini seakan bahwa klitih sudah lekat dengan aksi kriminal.
Lalu saya tergerak untuk mencari makna sesunguhnya tentang kata klitih/ klithih (klithihan/ nglitih), “merupakan sebuah kosa kata dari bahasa Jawa/ Yogyakarta, yang mempunyai arti sebuah kegiatan dari seseorang yang keluar rumah tanpa tujuan.” Klitih bila dialihbahasakan ke kosa kata bahasa Indonesia bisa disamakan dengan kata keluyuran. Berati memang benar bahwa kegiatan tersebut menjurus ke hal atau tindakan yang kurang baik atau kurang bermanfaat, karena ini merupakan sebuah tindakan yang tidak ada kepastian tujuan dari kegiatan ini. Dan sebenarnya apa yang terjadi di Jogja ini sudah bukan klitih lagi, tapi klitih kebablasan atau kriminal karena sudah melakukan tindakan kriminal/ melanggar hukum, menurut hemat saya.
Apapun definisinya yang jelas kata klitih sudah identik dengan Kriminal-Remaja-Gerombolan-Pembacokan dan ‘Jogja’. Sungguh ironis lagi miris. Jadi, bagi kita yang tinggal di Jogja kita sudah ter-stigma Jogja bukan hanya kota pelajar tapi juga kota klitih. Ngeri, dab!
Akhirnya saya jadi pingin menganalisa, khusus untuk para pelaku kriminal dalam kegiatan klitih ini. Saya pikir dan rasakan bahwa jiwa mereka begitu ringkih –lemah-, kondisi dimana seorang remaja membutuhkan “pengakuan” atau bisa dikatakan “agar bisa diterima” yang pada dasarnya sebenarnya mereka begitu lemah. Kondisi yang begitu labil, perasaan ingin diterima oleh lingkungan dan ditambah kondisi hormonal yang begitu meletup-letup. Ini adalah kondisi nyata ketika pendidikan akhlak atau budi pekerti hanya pada batasan definisi yang dihapalkan, bukan lagi pada perwujudan perilaku yang nyata dan lekat pada diri seseorang. Ini adalah kondisi dimana kebebasan yang ‘bablas’ menjadi ideologi dalam isi kepala para pelaku klitih.
Sebenarnya begitu menarik untuk diulas, coba sesekali kita cari tahu bagaimana kondisi psikologis/ kejiwaan para perilaku klitih. Pasti di dalamnya ada berbagai ‘sampah-sampah’ jiwa yang menumpuk hingga berbau busuk. Entah yang broken home, terlalu dimanja, terlalu diabaikan, anak korban bullying yang balas dendam, dan lain sebaginya. Alasan-alasan klasik yang selalu saja muncul. Bukan ini yang menjadi fokus tulisan ini, melainkan pada jiwa-jiwa ringkih perilaku klitih.
Bukan saatnya lagi saling menyalahkan, entah salah guru, entah salah orang tua, salah pihak keamanan, atau siapapun itu. Tapi kita semua juga turut bertanggung jawab untuk memutus mata rantai kondisi yang memilukan ini. Bersama kita hentikan kondisi yang mencoreng adat istiadat luhur masyarakat kita. Kita kuatkan lagi jiwa-jiwa ringkih tadi bukan dengan tidak lagi mendikte, tapi menerapkan pendidikan budi pekerti yang berkesadaran.
Kita jaga anak-anak kita, kembali perbaiki komunikasi antara orang tua dan anak, kembali buat lingkungan komunal yang kondusif agar anak-anak muda nyaman beraktifitas pada wadah yang positif dengan bakat yang tersalurkan, kita giatkan aktivitas organisasi kepemudaan dari berbagai sektor seperti karang taruna, pemuda masjid, pemuda gereja atau komunitas positif lainnya.
Semua punya tanggung jawab, bersama mulai dari lingkungan terkecil dalam keluarga, saling sapa, salam dan doa, sempatkan berbincang ringan dengan anak-anak kita, kembalikan rumah sebagai sekolah utama bagi anak-anak kita. Dan apapun aktifitas yang bisa kita kerjakan walaupun itu kecil asal dapat kontinyu dan berkontribusi untuk memutus mata rantai perilaku klitih ini dan tindak kriminal lainnya.
Begitu kompleks memang. Tapi ini kondisi memilukan yang nyata-nyata ada di sekitar kita. Mari mulai dari diri kita sendiri, memulai dengan berpikiran positif, mengangkat berita-berita anak-anak muda berprestasi, membumikan karya dan tentunya membuka hati kita untuk bisa saling memahami isi hati anggota keluarga kita.
“Keluarga Indonesia Bahagia Sejahtera, STOP KLITIH, STOP HILANGNYA NYAWA YANG SIA-SIA! Dan, beri ruang positif bagi generasi bangsa untuk turut berkontribusi dalam pembangunan negeri tercinta ini.”
Sabtu, 18 Maret 2017 pukul 01.23 a.m
Aditya Rendy Artha
Leave a comment