
KEPIAWAIAN ADAPTASI. Salah satu peristiwa yang menarik dalam kehidupan ini salah satunya adalah pohon meranggas. Di berbagai negara dengan 4 musim, pohon meranggas bisa ditemui saat musim gugur atau situasi saat musim dingin. Di negara tropis, biasanya beberapa jenis pohon akan meranggas di musim kemarau. Mengapa harus meranggas atau menggugurkan daun?
Kata para ahli pertanian, pohon meranggas adalah pola adaptasi terhadap musim atau lingkungan dirinya. Sebuah strategi bertahan hidup, baik bagi diri maupun pohon lain atau bahkan makhluk lain. Kok bisa?
Menggugurkan daun merupakan strategi untuk mengurangi penyerapan air. Ketika sumber air sedikit, pohon pun merasa perlu melakukan pola hidup hemat. Semua itu dilakukan tidak hanya untuk diri tetapi untuk menjaga hidup pohon yang lain. Sumber air yang menipis perlu dibagi dengan pohon yang lain.
Ini pelajaran hidup yang luar biasa keren dari ciptaan Yang Maha Kuasa. Lingkungan boleh berubah, kehidupan diri dan ekosistem harus tetap berjalan. Pola adaptasi teramat ciamik. Adaptasi hemat daya serap air yang bermanfaat untuk diri dan bermanfaat bagi pihak lain yang hidup bersama. Aksi untuk diri sekaligus aksi berbagi.
Ketika situasi berubah menjadi tidak nyaman, atau kondisi mengharuskan kita berubah, diri ini pun juga harus berubah. Bukan reaktif tentunya, namun adaptif. Berubah dengan mindset, pola pikir, sikap dan perilaku sesuai dengan keadaan yang ada. Orang Jawa sering berpesan “urip iku kudu bisa mulur mungkret” (Hidup ini harus bisa tarik ulur – red lentur/ luwes). Kata ahli, inilah bentuk resiliensi.
Kondisi saat ini, dimana kita sedang dihadapkan pada tantangan yang luar biasa, semua orang menjadi punya “gawe“, harus siap beradaptasi dan melanjutkan hidup dengan resiliensi. Resiliensi memberikan kita sebuah daya lenting dan pantul yang luar biasa, bukan untuk meratapi dan menyalahkan setiap kondisi yang ada, namun mampu menyusun berbagai strategi hidup selanjutnya agar lebih baik dan adaptif.
Tentunya, seharusnya adaptasi dan resiliensi tidak hanya terjadi ketika kita dihadapkan pada sesuatu hal yang besar, melainkan dalam setiap harinya kita selalu dihadapakan dengan berbagai situasi yang menantang. Apalagi, hidup harus menapaki anak tangga, semakin tinggi kita menaiki tangga tersebut, semakin berbeda pula tantangan yang akan kita hadapi.
Alam berpesan dan lingkungan pun demikian. Semoga kita bisa menjalani hidup dengan penuh kearifan serta kemampuan adaptasi dengan resiliensi yang baik. Sudah siapkah Kita?
Jakarta, 13 Agustus 2020
Rendy Artha
Leave a comment