Saya selalu percaya bahwa beberapa percakapan datang bukan untuk menjawab, tetapi untuk membuka kesadaran baru. Salah satunya suatu waktu terjadi di ruang kerja profesor pembimbing saya—ruang yang tenang, penuh buku strategi, dan aroma kopi yang sudah dingin. Beliau menatap grafik volatilitas industri tambang yang saya masukkan dalam draft riset: garis-garis yang naik-turun tajam mengikuti harga komoditas global, arus besar transisi menuju operasi yang lebih hijau, serta laju digitalisasi yang terasa semakin tak terkejar. Setelah beberapa saat hening, beliau mengangkat wajah dan berkata dengan pelan, “Coba renungkan ini: hari ini, apa yang lebih berbahaya? Mencoba hal baru, atau bertahan dengan cara lama?”

Tidak ada dramatisasi dalam kalimat itu, tetapi justru kesederhanaannya membuat pertanyaan tersebut terasa seperti sebuah kunci. Seolah beliau mengingatkan bahwa inti dari riset saya bukan sekadar memotret tren teknologi atau pola pasar, tetapi memahami bagaimana manusia—yang berada tepat di tengah pusaran perubahan—bertahan dan memimpin.

Saat keluar dari ruangan itu, pikiran saya langsung melayang menuju sebuah ingatan suatu malam hari, jauh sebelum pertemuan itu terjadi. Di sebuah salah satu site tambang, di bawah langit gelap dan udara dingin yang menyentuh tulang, saya duduk bersama seorang pengawas senior. Di kejauhan, suara ekskavator terdengar seperti napas besar yang tak pernah berhenti. Dengan suara lelah namun jujur, ia berkata, “Anak-anak sekarang memang cepat belajar, Mas. Mereka paham teknologi lebih cepat dari saya. Tapi yang paling berat itu bukan ngajarin alatnya… yang paling berat itu menjaga hati mereka tetap utuh. Mereka ingin didengar, ingin dihargai, ingin punya ruang berkembang. Dan di tengah ritme kerja sekeras ini, itu yang paling sulit.”

Helaan napasnya panjang—dan di dalamnya terdapat lapisan kelelahan emosional yang tidak pernah terlihat pada dashboard produksi mana pun. Malam itu, tanpa ia sadari, ia menjawab pertanyaan profesor saya: bahwa tantangan terbesar industri ini bukan hanya digitalisasi atau volatilitas pasar, tetapi ketahanan manusia yang berada di garis terdepan.

Industri tambang memang selalu hidup di antara dua dunia. Satu kaki berdiri di atas struktur yang stabil—SOP yang ketat, mesin besar yang bekerja presisi, disiplin kerja yang nyaris ritual. Namun satu kaki yang lain berdiri di atas tanah yang selalu bergerak: fluktuasi harga komoditas, tekanan efisiensi, tuntutan standar keberlanjutan yang makin ketat, perubahan geopolitik, dan kini digitalisasi yang bergerak seperti arus deras.

McKinsey Global Institute (2023) menyebut kondisi ini sebagai “kombinasi tekanan paling kompleks dalam sejarah pertambangan.” Lebih dari 40% perusahaan tambang global menempatkan kepemimpinan dan kesiapan tenaga kerja sebagai risiko bisnis terbesar lima tahun ke depan. PwC Mine 2024 memperkuatnya: daya saing masa depan tidak lagi ditentukan oleh banyaknya fleet saja, tetapi oleh kemampuan manusia mengoperasikan dan mengoptimalkannya.

Artinya sederhana: mesin dapat diganti, teknologi dapat dibeli, tetapi manusia hanya dapat dibangun—dan itu membutuhkan kepemimpinan yang tepat.

Namun realitas lapangan menunjukkan bahwa tantangan terbesar tidak berhenti pada kompetensi teknis. Australian Resources & Energy Group (2022) mencatat bahwa pekerja tambang memiliki tingkat stres 35% lebih tinggi dari rata-rata industri lain. Tekanan target, pola kerja panjang, lokasi terpencil, dan kultur maskulin menciptakan beban psikologis yang sering tidak terlihat.

Di Asia, Asian Mining Psychological Safety Study (2023) menemukan bahwa 70% rasa aman psikologis tim ditentukan oleh perilaku pemimpin frontline—supervisor, foreman, dan superintendent. Temuan ini menggemakan konsep psychological safety dari Amy Edmondson (2020): bahwa rasa aman untuk berbicara, bertanya, mengakui ketidaksempurnaan, dan saling mengingatkan keselamatan bukan datang dari slogan, tetapi dari keberanian dan konsistensi pemimpin sehari-hari.

Di sinilah titik sensitif industri ini: ketika relasi antara pemimpin dan tim retak sedikit saja, dampaknya tidak kecil. Ia merembet pelan tapi pasti—komunikasi menurun, disiplin melemah, koordinasi terganggu, produktivitas turun, bahkan keselamatan ikut terdampak.

Pada saat yang sama, gelombang digitalisasi datang tanpa kompromi. Automation, fleet management berbasis AI, fatigue monitoring, predictive maintenance, hingga remote operation center kini bukan lagi wacana futuristik; semuanya telah menjadi standar. Tetapi Deloitte Tracking the Trends 2024 mengingatkan: 80% kegagalan digitalisasi bukan terjadi karena teknologi itu sendiri, tetapi karena kesiapan manusia—budaya, pemahaman, dan kepemimpinan.

Saya melihat sendiri bahwa keberhasilan transformasi digital tidak pernah semata-mata tentang kecanggihan sistem. Ia selalu kembali pada pemimpin yang mampu menjalankan tiga hal: melakukan sensemaking, yaitu membantu tim memahami mengapa sebuah teknologi penting; melakukan orchestration, yaitu menyelaraskan berbagai fungsi agar bergerak dalam satu irama; dan mempraktikkan empathic agility, yaitu membaca kondisi emosional tim dan menyesuaikan cara memimpin berdasarkan konteks.

Dan di tengah semua perubahan itu, generasi baru membawa dinamika tersendiri. Anak-anak muda yang masuk hari ini tumbuh dalam dunia digital. Mereka cepat menyerap teknologi, mudah beradaptasi, dan punya energi yang besar. Namun mereka juga membawa ekspektasi: ingin didengar, ingin diberi ruang berkembang, ingin merasa pekerjaannya bermakna. Dalam beberapa kasus, mereka sangat kuat secara teknis tetapi rapuh secara emosional.

Society for Mining, Metallurgy & Exploration (SME, 2023) mencatat bahwa alasan seseorang bertahan di industri tambang bukanlah gaji atau fasilitas, tetapi kualitas atasan langsung. Gallup (2023) menguatkan: 70% variabel employee engagement ditentukan oleh pemimpin langsung. Ini bukan angka kecil—ini adalah penentu masa depan.

Di tengah semua teori, saya selalu kembali pada satu pengalaman sederhana. Malam itu hujan turun deras. Operator baru selesai shift malam dan wajah mereka terlihat letih. Seorang pengawas lapangan datang membawa termos air panas, membagikannya satu per satu sambil berkata singkat, “Hati-hati ya pulangnya, istirahat yang cukup.” Tidak ada motivasi berlebihan, tidak ada poster, tidak ada slogan keselamatan.

Namun esok paginya, suasana pre-shift meeting berubah. Koordinasi lebih cair, komunikasi lebih hangat, dan rasa saling mengingatkan muncul tanpa diminta. Dari situ saya memahami sesuatu yang tidak diajarkan dalam buku manajemen apa pun: operational excellence selalu dimulai dari relational excellence.

Saat saya kembali menemui profesor pembimbing dan menceritakan semua refleksi ini, beliau tersenyum dan berkata, “Kalau begitu, risetmu bukan tentang teknologi yang berubah. Risetmu tentang manusia yang harus tetap kokoh ketika dunia berubah terlalu cepat.”

Dan kalimat itu, sekali lagi, menjadi kunci menuju pemahaman yang lebih dalam. Bahwa inti dari masa depan pertambangan bukanlah algoritma atau sensor, tetapi manusia. Bahwa keberhasilan transformasi bergantung pada kemampuan pemimpin menjaga makna, menjaga hubungan, menjaga energi, dan menjaga ketahanan emosional timnya.

Industri pertambangan sedang memasuki era penuh gejolak. Tetapi di balik tantangan itu, ada peluang besar untuk melahirkan pemimpin yang lebih utuh—pemimpin yang kuat secara teknis, adaptif terhadap perubahan, dan lembut dalam memimpin manusia. Pemimpin yang mampu memberi arah dalam kesunyian malam pit, ketika suara mesin menjadi satu-satunya pengingat bahwa pekerjaan ini tidak pernah benar-benar berhenti.

Karena pada akhirnya, tambang bukan hanya tentang batu yang diangkat dari bumi.
Tambang adalah tentang manusia yang saling menjaga di bawah tekanan yang tidak terlihat.
Tambang adalah tentang keberanian memimpin—meski dunia bergerak tanpa henti.

Dan mungkin, seperti kata profesor saya, pertanyaan itu tetap relevan untuk siapa pun yang memimpin hari ini:
“Di dunia yang berubah secepat ini, apa yang lebih berbahaya—mencoba hal baru, atau bertahan dengan cara lama?”

Sebuah rangkungan dari catatan perjalanan sederhana,

Bangkok, 18 Januari 2026

Rendy Artha

Posted in

Leave a comment