Pagi ini dimulai dengan sunyi yang terasa lebih hidup dari biasanya.

Aku baru saja menyelesaikan ibadah. Masih duduk di atas sajadah, membiarkan doa-doa yang tadi kupanjatkan mengendap perlahan di dalam dada. Tidak terburu-buru berdiri. Tidak terburu-buru kembali menjadi diriku yang biasanya—yang seringkali terlalu sibuk, terlalu cepat, terlalu penuh dengan urusan dunia.

Di luar, fajar sedang bekerja pelan-pelan. Langit yang tadi gelap kini berubah menjadi abu kebiruan, dan di kejauhan, cahaya matahari mulai muncul seperti janji yang selalu ditepati. Yahh, ditemani perlahan sinarnya mulai memberikan kombinasi warna langit sedikit orange, karena mendung hari ini.

Aku berdiri, melipat sajadah, lalu bersiap melangkah keluar rumah. Udara pagi Jakarta masih menyimpan kejujurannya—tidak terlalu dingin, bersihnya standar Jakarta, dan yang pasti belum sepenuhnya tercampur oleh riuhnya ambisi manusia.

Aku mulai berjalan.

Langkah kakiku menyusuri trotoar yang perlahan-lahan hidup. Seorang petugas kebersihan sudah beraktivitas mengumpulkan pundi-pundi rezekinya, sapunya menyentuh aspal dengan ritme yang nyaris seperti dzikir. Di kejauhan, suara motor mulai bermunculan, satu per satu. Sebuah warung kopi membuka pintunya, pemiliknya menata kursi-kursi plastik, mempersiapkan ruang bagi percakapan, bagi pertemuan, bagi kehidupan yang akan berlangsung hari ini.

Langit semakin terang.

Cahaya matahari mulai menyentuh gedung-gedung tinggi, sedikit memantul di kaca-kaca jendela, membuat kota ini tampak hangat, meski aku tahu, sebentar lagi ia akan kembali menjadi keras dan tergesa.

Aku terus berjalan, menikmati momen yang seringkali terlewatkan—momen ketika dunia belum sepenuhnya berlari.Dan di tengah langkah itu, pandanganku tertarik pada sesuatu di atas sana.

Sebuah lampion merah, menggantung di pinggiran jalan kota Jakarta.

Ia tergantung sederhana di antara kawat-kawat dan kabel lampu yang menyinarinya di malam hari, bergoyang pelan disentuh angin pagi. Warnanya merah menyala, kontras dengan langit Jakarta yang kini mulai keemasan, kontras juga dengan beton dan baja yang mendominasi ruang di sekitarnya.

Aku melambat.

Lampion itu tidak besar. Tidak megah. Tapi ia terasa hidup.

Hari ini Imlek.

Di tengah kota yang nyaris tidak pernah berhenti, lampion itu seperti membawa jeda. Sebuah pengingat sunyi bahwa di balik kerasnya dunia, ada manusia-manusia yang masih merawat harapan. Yang masih percaya pada awal yang baru. Yang masih memandang langit dengan doa-doa mereka sendiri, dengan keyakinan yang mereka jaga sepenuh hati.

Aku berdiri sejenak di bawahnya.

Dan tanpa kusadari, sebuah kesadaran muncul perlahan di dalam diriku.

Besok, aku juga akan berdiri di ambang sebuah awal yang baru.

Ramadhan.

Dan di waktu yang bersamaan, saudara-saudara Katolik juga akan memulai Rabu Abu—sebuah momen ketika manusia menundukkan kepalanya, menerima tanda abu, sebagai pengingat bahwa ia berasal dari tanah, dan suatu hari akan kembali menjadi tanah. Sebuah simbol kerendahan hati. Sebuah pengakuan yang jujur bahwa manusia tidak pernah benar-benar memiliki apa-apa, kecuali kesempatan untuk kembali.

Aku menarik napas dalam-dalam.

Betapa dunia ini dipenuhi oleh manusia-manusia yang sedang mencari jalan pulang, dengan cara mereka masing-masing.

Dan sebagai seorang Muslim, aku diingatkan kembali tentang siapa Rasulullah saw, dan untuk apa beliau diutus.

Allah berfirman:

“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya: 107)

Rahmat bagi seluruh alam.

Bukan hanya bagi Muslim.
Bukan hanya bagi mereka yang sama.
Tapi bagi seluruh alam.

Dan Rasulullah saw benar-benar hidup sebagai rahmat itu.

Suatu hari dalam sebuah riwayat, ada jenazah Yahudi lewat di hadapan beliau. Rasulullah saw berdiri. Sebuah gestur sederhana, tapi penuh penghormatan. Para sahabat, yang mungkin belum sepenuhnya memahami, berkata, “Ya Rasulullah, itu jenazah seorang Yahudi.”

Seolah ingin mengingatkan, bahwa itu bukan bagian dari mereka.

Tapi Rasulullah saw menjawab dengan kalimat yang begitu tenang, begitu dalam, dan begitu manusiawi, “Bukankah ia juga seorang manusia?”

Tidak ada penolakan.
Tidak ada jarak.
Tidak ada kebencian.

Yang ada hanya pengakuan—bahwa di hadapan Allah, kita semua adalah ciptaan-Nya.

Aku membayangkan momen itu.

Seorang Nabi, berdiri, bukan karena kesamaan keyakinan, tapi karena kemuliaan kemanusiaan. Dan tiba-tiba aku sadar, mungkin di situlah Islam yang paling indah.

Bukan hanya pada ibadah yang kita lakukan. Tapi pada rahmat yang kita hadirkan. Pada kelembutan yang kita jaga. Pada kemampuan kita untuk tetap menghormati, bahkan di tengah perbedaan.

Ramadhan, yang akan datang besok, bukan sekadar bulan untuk menahan lapar dan haus. Ia adalah undangan untuk kembali. Kembali kepada Allah. Kembali kepada hati yang bersih. Kembali kepada fitrah kita sebagai manusia yang diciptakan bukan untuk membenci, tapi untuk membawa rahmat.

Ramadhan datang untuk membersihkan sesuatu yang seringkali tidak terlihat—hati yang mungkin telah mengeras oleh dunia.

Agar ia kembali lembut. Agar ia kembali hidup. Agar ia kembali mampu melihat sesama manusia, sebagaimana Rasulullah melihat mereka.

Aku kembali melihat lampion itu, masih bergoyang pelan di atas sana. Dan aku bertanya pada diriku sendiri.

Ketika Ramadhan datang besok, apakah aku akan benar-benar kembali?
Apakah aku akan menjadi manusia yang lebih lembut?
Lebih sabar?
Lebih mampu membawa rahmat?

Atau aku hanya akan menjalani Ramadhan sebagai rutinitas, tanpa benar-benar menghidupkannya di dalam diri?

Langkah kakiku perlahan berbalik, menuju rumah.

Kini jalanan semakin ramai. Kendaraan bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Orang-orang berjalan dengan tujuan mereka masing-masing. Kota ini sepenuhnya telah bangun.

Dan mungkin, inilah makna Ramadhan yang sebenarnya. Bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Tapi tentang membangunkan sesuatu yang selama ini tertidur di dalam diri kita.

Membangunkan hati.
Membangunkan kesadaran.
Membangunkan kemanusiaan.

Di ujung Sya’ban ini, di bawah lampion merah yang menjadi saksi sunyi pagi Jakarta, aku akhirnya mengerti satu hal; Bahwa setiap manusia sedang berjalan menuju Tuhan. Dan Ramadhan adalah undangan, untuk kembali berjalan dengan lebih sadar, lebih lembut, dan lebih penuh rahmat.

Di penghujung Sya’ban

Jakarta, 17 Februari 2026/ 29 Sya’ban 1447 H

Rendy Artha 

Posted in

Leave a comment