
Pernah ada hari ketika kamu duduk beberapa detik lebih lama dari biasanya. Bukan karena tidak tahu harus apa, tapi karena energi di dalam dada terasa tidak penuh seperti kemarin. Hari ketika daftar tugas tetap menunggu, target tetap tinggi, dan tanggung jawab tetap berjalan seperti biasa—sementara di dalam diri, yang terasa justru satu kalimat sunyi: “Hari ini rasanya berat…”
Aneh ya—hidup jarang berhenti hanya karena kita sedang lelah.
Justru di ruang-ruang lelah seperti inilah, dua kisah perempuan agung terasa begitu hidup: Maryam dan Hajar. Bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi seperti potongan adegan yang terus berulang dalam kehidupan manusia sampai hari ini.
Bayangkan sejenak Maryam.
Ia baru saja melewati proses persalinan. Tubuhnya belum pulih. Tenaganya menipis. Ia sendirian—tanpa keramaian, tanpa tepuk tangan, tanpa siapa pun yang menguatkan dari dekat. Di hadapannya berdiri sebatang pohon kurma, tinggi dan kokoh, akarnya mencengkeram tanah seperti tidak ingin diganggu siapa pun.
Dalam ukuran manusia, ini jelas bukan momen yang ideal untuk melakukan apa pun. Bahkan untuk berdiri tegak pun mungkin perlu usaha. Namun justru di saat paling rapuh itu, datang perintah yang sederhana sekaligus menggetarkan:
“Goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu…”
(QS. Maryam: 25)
Kalimat itu, jika kita bayangkan secara jujur, terasa hampir tidak masuk akal. Bukankah Allah mampu menjatuhkan kurma itu tanpa perlu Maryam menggerakkan satu otot pun? Mengapa perempuan yang sedang selemah itu tetap diminta berusaha?
Pelan-pelan kita mulai memahami: ternyata yang sedang dibentuk bukan pohonnya. Yang sedang dibentuk adalah hati di balik tangan yang menggoyang itu.
Beberapa generasi sebelum Maryam, padang tandus Makkah pernah menyimpan adegan yang sama sunyinya, meski dengan bentuk yang berbeda. Seorang ibu bernama Hajar berdiri di lembah yang nyaris kosong dari kehidupan. Tidak ada air. Tidak ada kafilah. Tidak ada tanda pertolongan yang terlihat. Hanya ia dan bayinya yang mulai kehausan.
Dalam hadis shahih riwayat Imam Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dikisahkan bahwa ketika persediaan air habis, Hajar tidak duduk menunggu keajaiban. Ia bangkit, lalu berlari kecil menuju bukit Shafa. Tidak menemukan apa-apa, ia turun lagi, lalu berlari ke Marwah. Begitu seterusnya—sekali, dua kali, hingga tujuh kali.
Jika dilihat dengan kacamata rasional, gerakan itu tampak terlalu kecil untuk masalah sebesar itu. Air tidak muncul hanya karena seseorang berlari di antara dua bukit. Sumur tidak tercipta karena langkah kaki yang mondar-mandir.
Namun justru setelah ikhtiar yang tampak sederhana itulah Zamzam memancar. Dan Al-Qur’an kemudian mengabadikan dua bukit itu sebagai syiar:
“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah…”
(QS. Al-Baqarah: 158)
Di titik ini, dua kisah itu seperti bertemu dalam satu pola yang sangat halus—dan diam-diam sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini. Maryam menggoyang pohon yang hampir mustahil ia gerakkan. Hajar berlari di padang yang tampak tidak menjanjikan air.
Keduanya bergerak bukan karena mereka yakin usahanya cukup besar, tetapi karena mereka memilih untuk tidak berhenti. Dan di sinilah hikmah yang sering luput dari perhatian kita: ikhtiar itu sendiri adalah bentuk pengorbanan.
Setiap langkah yang tetap kita ambil saat lelah adalah pengorbanan. Setiap usaha yang tetap kita lakukan saat peluang belum jelas adalah pengorbanan. Setiap ketaatan yang tetap kita jaga saat hati sedang berat adalah pengorbanan.
Maryam mengorbankan sisa tenaganya untuk menggoyang pohon itu. Hajar mengorbankan napas dan tenaganya untuk berlari di padang tandus. Mereka tidak tahu kapan pertolongan datang. Mereka tidak tahu bagaimana jalan keluarnya akan dibuka.
Namun mereka memilih satu sikap yang sama: tetap berikhtiar, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Mungkin di sinilah kita sering salah membaca hidup. Kita ingin hasil besar, tanpa siap menanggung pengorbanan kecil. Kita berharap pertolongan cepat, tapi langkah masih setengah-setengah. Kita ingin pintu terbuka, tapi tangan belum benar-benar mengetuk.
Padahal dalam banyak momen kehidupan, langit tidak menunggu kita sempurna—langit hanya melihat apakah kita sungguh-sungguh mempertaruhkan ikhtiar kita di hadapan-Nya.
Bayangkan seorang ayah yang tetap berangkat pagi meski tidurnya kurang. Seorang pemimpin yang tetap menyalakan harapan timnya meski tekanan sedang tinggi. Atau seseorang—mungkin termasuk kita—yang tetap membuka satu halaman lagi dari pekerjaan atau karya lainnya, meski pikirannya sudah penat.
Dari luar, itu terlihat kecil. Bahkan biasa. Namun bisa jadi, justru di situlah bentuk pengorbanan yang paling jujur. Karena ada satu rahasia yang pelan-pelan terasa makin jelas: pertolongan Allah tidak selalu datang setelah kita kuat. Sering kali ia datang setelah kita berani mengorbankan ikhtiar terbaik kita, lalu merelakannya dengan ridha.
Bukan karena gerakan kecil itu yang menciptakan keajaiban. Maryam tidak menjatuhkan kurma dengan kekuatannya. Hajar tidak menggali Zamzam dengan langkahnya. Tetapi gerakan itu adalah tanda hidupnya ketaatan. Dan ketaatan yang disertai pengorbanan itulah yang diam-diam membuka pintu pertolongan.
Maka jika hari ini kamu sedang berdiri di depan “pohon kurma” versimu sendiri—target yang terasa tinggi, tanggung jawab yang terasa berat, atau fase hidup yang pelan-pelan menguras tenaga—mungkin kamu tidak sedang diminta melakukan sesuatu yang spektakuler. Mungkin kamu hanya sedang diminta satu hal sederhana, tapi mahal: pertaruhkan ikhtiarmu dengan sungguh-sungguh, lalu gantungkan harapmu hanya kepada Allah.
Goyangkan pohonmu—meski pelan.
Lari di padangmu—meski tertatih.
Ambil satu langkah kecil hari ini—meski belum sempurna.
Lalu setelah itu, relakan!
Karena siapa tahu, tepat setelah pengorbanan kecil yang nyaris kamu tunda itulah, langit mulai bekerja dengan caranya yang paling sunyi. Pada akhirnya, tugas kita memang bukan menciptakan keajaiban. Tugas kita hanyalah memastikan satu hal: ikhtiar sudah kita pertaruhkan dengan jujur, dan hati tetap kita sandarkan penuh kepada Allah.
Sisanya, biarkan Allah yang menyempurnakan ceritanya.
Sepenggal cerita menuju sepekan pertama Ramadhan 1447 H
Jakarta, 22 Februari 2026
Rendy Artha
Leave a comment