Kabar duka kembali terdengar di Kota Jogja, kota yang dikatakan sebagai miniatur Indonesia, kota yang dikatakan sebagai kota yang ramah dan bahagia, namun masih ada keadaan yang tidak ramah. Kembali terjadi kasus pembacokan dan lagi-lagi melibatkan anak muda yang usianya masih begitu belia, yang mungkin di rumah masih sering berkata, “mak, maeme lawuhe opo?” –mak makannya pake lauk apa?- atau “mak, jaluk sangune” –mak, minta uang sakunya- atau kalimat lain yang sifatnya masih mbok-mboken –anak mami-. Sangat miris untuk dibayangkan bagaimana kondisi yang terjadi saat situasi pembacokan, orang yang sama-sama tidak saling kenal hanya dipicu karena sesuatu hal yang sepele tiba-tiba langsung dihunus pedang atau clurit.
Masuk akal? Tentu tidak sama sekali bagi yang akalnya sehat, tapi mungkin bagi yang akalnya sakit begitu masuk akal. Remaja belasan tahun malam-malam keluar di jalanan. Sudah banyak pakar menganalisa kasus klitih, saya yang hanya sebuah ‘butiran debu’ dengan ilmu yang begitu sempit ini akhirnya juga tergelitik untuk menulis. Apapun analisanya, semua bagus dan saatnya kita kembali merapatkan barisan menjadikan Jogja yang istimewa.
Iseng-iseng saya search di google tentang apa itu arti klitih, dan mesin pencari canggih ini mendifinisikan, “klitih adalah salah satu bentuk anarkisme remaja yang sekarang sedang marak di Yogyakarta. Klitih identik dengan segerombolan para remaja yang ingin melukai atau melumpuhkan lawannya dengan kekerasan. Ironisnya klitih juga sering kali melukai lawannya dengan benda-benda tajam seperti pisau, gir, pedang samurai, dll.” Membaca definisi ini seakan bahwa klitih sudah lekat dengan aksi kriminal.
Lalu saya tergerak untuk mencari makna sesunguhnya tentang kata klitih/ klithih (klithihan/ nglitih), “merupakan sebuah kosa kata dari bahasa Jawa/ Yogyakarta, yang mempunyai arti sebuah kegiatan dari seseorang yang keluar rumah tanpa tujuan.” Klitih bila dialihbahasakan ke kosa kata bahasa Indonesia bisa disamakan dengan kata keluyuran. Berati memang benar bahwa kegiatan tersebut menjurus ke hal atau tindakan yang kurang baik atau kurang bermanfaat, karena ini merupakan sebuah tindakan yang tidak ada kepastian tujuan dari kegiatan ini. Dan sebenarnya apa yang terjadi di Jogja ini sudah bukan klitih lagi, tapi klitih kebablasan atau kriminal karena sudah melakukan tindakan kriminal/ melanggar hukum, menurut hemat saya.
Apapun definisinya yang jelas kata klitih sudah identik dengan Kriminal-Remaja-Gerombolan-Pembacokan dan ‘Jogja’. Sungguh ironis lagi miris. Jadi, bagi kita yang tinggal di Jogja kita sudah ter-stigma Jogja bukan hanya kota pelajar tapi juga kota klitih. Ngeri, dab!
Akhirnya saya jadi pingin menganalisa, khusus untuk para pelaku kriminal dalam kegiatan klitih ini. Saya pikir dan rasakan bahwa jiwa mereka begitu ringkih –lemah-, kondisi dimana seorang remaja membutuhkan “pengakuan” atau bisa dikatakan “agar bisa diterima” yang pada dasarnya sebenarnya mereka begitu lemah. Kondisi yang begitu labil, perasaan ingin diterima oleh lingkungan dan ditambah kondisi hormonal yang begitu meletup-letup. Ini adalah kondisi nyata ketika pendidikan akhlak atau budi pekerti hanya pada batasan definisi yang dihapalkan, bukan lagi pada perwujudan perilaku yang nyata dan lekat pada diri seseorang. Ini adalah kondisi dimana kebebasan yang ‘bablas’ menjadi ideologi dalam isi kepala para pelaku klitih.
Sebenarnya begitu menarik untuk diulas, coba sesekali kita cari tahu bagaimana kondisi psikologis/ kejiwaan para perilaku klitih. Pasti di dalamnya ada berbagai ‘sampah-sampah’ jiwa yang menumpuk hingga berbau busuk. Entah yang broken home, terlalu dimanja, terlalu diabaikan, anak korban bullying yang balas dendam, dan lain sebaginya. Alasan-alasan klasik yang selalu saja muncul. Bukan ini yang menjadi fokus tulisan ini, melainkan pada jiwa-jiwa ringkih perilaku klitih.
Bukan saatnya lagi saling menyalahkan, entah salah guru, entah salah orang tua, salah pihak keamanan, atau siapapun itu. Tapi kita semua juga turut bertanggung jawab untuk memutus mata rantai kondisi yang memilukan ini. Bersama kita hentikan kondisi yang mencoreng adat istiadat luhur masyarakat kita. Kita kuatkan lagi jiwa-jiwa ringkih tadi bukan dengan tidak lagi mendikte, tapi menerapkan pendidikan budi pekerti yang berkesadaran.
Kita jaga anak-anak kita, kembali perbaiki komunikasi antara orang tua dan anak, kembali buat lingkungan komunal yang kondusif agar anak-anak muda nyaman beraktifitas pada wadah yang positif dengan bakat yang tersalurkan, kita giatkan aktivitas organisasi kepemudaan dari berbagai sektor seperti karang taruna, pemuda masjid, pemuda gereja atau komunitas positif lainnya.
Semua punya tanggung jawab, bersama mulai dari lingkungan terkecil dalam keluarga, saling sapa, salam dan doa, sempatkan berbincang ringan dengan anak-anak kita, kembalikan rumah sebagai sekolah utama bagi anak-anak kita. Dan apapun aktifitas yang bisa kita kerjakan walaupun itu kecil asal dapat kontinyu dan berkontribusi untuk memutus mata rantai perilaku klitih ini dan tindak kriminal lainnya.
Begitu kompleks memang. Tapi ini kondisi memilukan yang nyata-nyata ada di sekitar kita. Mari mulai dari diri kita sendiri, memulai dengan berpikiran positif, mengangkat berita-berita anak-anak muda berprestasi, membumikan karya dan tentunya membuka hati kita untuk bisa saling memahami isi hati anggota keluarga kita.
“Keluarga Indonesia Bahagia Sejahtera, STOP KLITIH, STOP HILANGNYA NYAWA YANG SIA-SIA! Dan, beri ruang positif bagi generasi bangsa untuk turut berkontribusi dalam pembangunan negeri tercinta ini.”
Ini adalah judul tulisan saya sekitar hampir 10 tahun yang lalu. Persisnya saya lupa. Yang jelas, tulisan ini tercipta setelah saya lolos menjadi duta pendidikan dalam rangkaian acara pertukaran pelajar di tahun 2007.
Saat itu saya mendapatkan tugas di Provinsi Kalimantan Selatan, tepatnya di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Tak menyangka sebenarnya hingga pada akhirnya kenapa saya bisa menjadi bagian dari acara bergengsi yang belum lama dirintis oleh Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta kala itu. Teringat saat dulu seleksi, saya pun harus menempuh perjalanan dari daerah Samigaluh, Kulon Progo untuk menuju Kantor Dinas Pendidikan untuk mengikuti rangkaian seleksi beberapa hari. Karena saat itu saya juga sedang mengemban tugas dari sekolah untuk “belajar bersama” tinggal di daerah Samigaluh, dalam acara mubaligh hijrah yang diadakan sekolah saya, SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Program itu mengirimkan beberapa siswanya untuk terlibat berinteraksi secara langsung dengan masyarakat dan sambil belajar bersama dan tentunya membawa pesan dakwah di dalamnya.
Kembali ke topik awal, sebenarnya kisahnya cukup lucu sih. Beberapa hari saya harus bolak balik Samigaluh-Kota Jogja, yang tentunya cukup menguras energi saya saat itu. Tapi, Alhamdulillah semuanya terbayar dengan sukses, dan tentunya ini berkat doa dari orang-orang tersayang juga terutama bapak-ibu.
Tulisan ini hanya menjadi pengantar saja, karena kebetulan hari ini ini pas juga dengan 28 Oktober yang merupakan hari sumpah pemuda, pagi tadi saya iseng buka email lama, nemu artikel “Gubug Reot Di Atas Emas Hitam”. Karena sebenarnya artikel ini sendiri hilang softfilenya, karena komputer saya dulu rusak dan harus install ulang dan tulisan ini tak terselamatkan.
“Gubug Reot Di Atas Emas Hitam” merupakan salah satu bagian dari Buku 1001 Anak Bangsa Bercerita yang dimotori oleh Dinas Pendidikan Kota Yogya dan IMPULSE kala itu. Dan kami sebagai duta pertukaran Pelajar Kota Yogya kala itu diharuskan menulis dan alhasil tulisan kami dibukukan.
Sebenarnya saya membaca artikel ini sambil cengar-cengir sih. Tulisannya cukup idealis bagi usia saya saat itu, penuh berontak dan bahasanya pun kadang gimana gitu. Maklumlah yaa, baru belajar nulis.
Tapi, apapun itu ada beberapa ruh dalam tulisan itu yang masih relevan dengan keadaan saat ini. Jadi, bacanya harus pakai jiwa kala sekitar tahun 2007 dan apa yang bisa ditarik benang merah dengan tahun-tahun sekarang. Dan lagi-lagi, semua tak jauh dari topik pemuda, pendidikan, pembangunan, dan Indonesesia.
Terima kasih, kepada semua pihak yang telah memberikan kepercayaan kepada kami untuk bisa bercerita, kami memang tidak pertukaran pelajar hingga luar Negeri, namun kami diamanahi untuk belajar mengenal saudara-saudara kita di bagian Indonesia lainnya. Dan ini membuat kami terbuka dan bersyukur.
ini adalah beberapa dokumentasi yang tersisa,
ini adalah tempat tinggal saya selama di Kandangan
ini adalah keluarga angkat saya di sana. Begitu HangatIni saat kami rindu keluarga di Jogja, dan saya berkunjung ke sekolah dimana teman saya di tugasi. Dan saat itu hujan lebat. Fotonya gak begitu jelas, saya nomor dua dari kiri
Oke ini dia tulisannya, selamat membaca dan selamat Suaph Pemuda!
___________________________________________
Gubug Reot Di Atas Emas Hitam
Oleh : Aditya Rendy Artha
Kita akan berpanjang lebar ketika berbicara mengenai dunia pendidikan di Indonesia, sesuai judul yang di tampilkan di atas yaitu “Gubug Reot di Atas Emas Hitam”, judul tersebut akan saya refleksikan pada dunia pendidikan kita. Hal ini memberikan inspirasi bagi saya ketika melakukan perjalanan dari Bandara Syamsudin Noor hingga Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan ketika saya hidup selama kurang lebih dua minggu di Kandangan.
Sekolah, Pendidikan dan Indonesia, adalah sesuatu yang indah, tetapi hal tersebut tidak terlalu memberikan daya tarik pada anak-anak bangsa kita. Di sini saya tidak akan mengangkat masalah mahal atau murahnya pendidikan. Tetapi saya mengangkat permasalahan yang sangat mengganjal di benak saya yaitu budaya konsumerisme anak-anak bangsa yang mengakibatkan reotnya jiwa kebangsaan dan semangat untuk memahami dan menjalani pendidikan mereka. Gubug reot, ini bisa menggambarkan keadaan dunia pendidikan di Indonesia yang berdiri di atas banyaknya kekayaan alam yang ada di dalamnya misalnya adalah limpahan emas hitam atau bisa dikatakan batu-bara.
Penggambaran di atas mungkin sudah bisa memberikan bayangan di pikiran kita untuk meneruskan membaca tulisan dari seorang pelajar sekolah menegah atas ini. Ya, “Gubug Reot Di Atas Emas Hitam”, sama halnya dengan reotnya pendidikan di atas limpahan kekayaan alam Indonesia.
Kalau boleh sedikit bercerita, penggambaran tadi saya dapatkan dari berbagai inspirasi ketika saya lolos sebagai duta pertukaran pelajar kota Yogyakarta ke Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Ada cerita menarik yang mungkin bisa dijadikan renungan dan motivasi bagi kita. Ketika perjalanan dari bandara Syamsudin Noor hingga Kandangan, bus yang saya tumpangi berpapasan dengan ratusan truk pengangkut batu-bara, dengan seketika muncul dalam pikiran saya betapa kayanya tanah Indonesia ini, dan itu hanya di sebagian daerah di Kalimantan Selatan, belum di kawasan Indonesia lainnya, hingga membuatku semakin bangga menjadi anak negeri ini.
Dari kesan pertama saya menginjakkan kaki di tanah Kandangan, saya mulai berbangga hati, banyak sekali penyataan dan pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut di hati saya tentang kota ini. Dari perjumpaan pertama kali dengan pemerintah, khususnya dinas Pendidikan di sana, dari penyambutan selamat datang untuk kami, hingga akhirnya bertemu keluarga yang nantinya akan menjadi keluarga saya di sana. Saya semakin bahagia karena mendapatkan sambutan yang hangat dan keluarga yang menyayangi saya. Sepertinya semua ini begitu sempurna.
Setelah hari kedua di sana barulah saya memasuki sekolah yang saya tempati di sana. Ada kesan pertama yang saya dapatkan, tanpa ada maksud untuk menjelekkan seketika dalam hati saya berkata “Oh, ini sekolahnya? Seperti inikah?”. Kesan mewah, penyambutan hangat yang saya dapatkan seketika menjadi hilang. Akhirnya, saya pun masuk kelas yang hanya ada satu-satunya program di sana yaitu kelas ipa setelah ada penyambutan oleh pihak sekolah kepada saya. Dan tibalah waktunya saya mengikuti pelajaran di sana. Satu persatu wajah teman-teman baru saya, saya pandangi. Tersirat di wajah mereka masing-masing tentang masa depan dan cita-cita mereka. Walau di kelas mereka hanya ada sebuah papan tulis yang dwi fungsi, yang hanya menggunakan kapur tulis dan sebaliknya memakai spidol, walau materi pelajaran tidak di dapatkan dari buku-buku pelajaran melainkan hanya meteri yang di foto copykan oleh guru mata pelajaran, dan walau hanya ada satu laboratorium yang dapat digunakan untuk semua mata pelajaran mipa. Yah, satu untuk semua. Tetapi walapun seperti ini masih ada saja siswa yang belum ada semangat dalam belajar, kasarnya mereka itu seperti menganggap pendidikan tidak penting. Kemudian ingatan saya kembali kepada ratusan truk pengangkut batu-bara tersebut. Kota ini kaya, negeri ini kaya, bangsa ini kaya, akan sumber daya alam, tetapi kenapa kita sebagai anak bangsa tidak berkeinginan memperkaya diri untuk berfikiran lebih dewasa dalam memahami dan menyadari betapa pentingnya pendidikan dan ilmu pengetahuan bagi diri dan bagi kelangsungan kehidupan negri Indonesia ini.
Ini benar-benar gubug reot yang menjadi cacat tanah Indonesia. Itulah kesimpulan yang yang ada di pikiran saya selama tinggal di sana kurang lebih dua minggu dan cukup memberikan inspirasi. Permasalahan yang ada sebenarnya sangat sederhana, yaitu kurangnya kesadaran anak bangsa terhadap pentingnya ilmu pengetahuan bagi kehidupan mereka.
Ada beberapa alasan yang membuat saya berani menuliskan permasalahan tersebut, walau ini hanya pandangan global terhadap hal tersebut, di antaranya pertama adalah faktor jiwa konsumerisme sangat kental, ini sangat mempengaruhi semangat anak bangsa dalam hal haus terhadap ilmu. Alasan ini saya kemukakan paling awal karena jiwa konsumerisme akan memberikan pengaruh yang sangat buruk bagi kehidupan seseorang. Jika kita selalu terbiasa untuk mengkonsumsi dan tidak memproduksi nantinya kita akan selalu bergantung pada orang lain dan kita akan kehilangan jiwa looking for, yaitu jiwa yang selalu mencari akan ketidaktahuan terhadap ilmu pengetahuan dan tidak hanya menerima, menerima dan menerima saja.
Saharusnya sebagai masyarakat yang beradab dan masyarakat yang memiliki kekayaan yang bisa dikatakan lebih dari Negara lain kita mempunyai petensi lebih untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan menuju Negara maju yang dimulai dari dunia pendidikan.
Alasan yang kedua yaitu, karena negeri kita ini diciptakan sebagai negeri yang kaya, tetapi memberikan dampak negatif bagi kita yang tidak pernah memikirkan masa depan. Salah satu contohnya adalah di kalangan pelajar yang hidup di keluarga yang kaya, lingkungan yang kaya dan daerah yang kaya. Karena terbiasa dengan keadaan yang berkecukupan, mengakibatkan budaya konsumerisme tersebut semakin tinggi dan lebih mengesampingkan pendidikan. Misalnya, kerena kita selalu hidup dalam keadaan yang berkecukupan, mengakibatkan kita lebih sering berpangku tangan karena merasa hidup ini sudah tercukupi tetapi kita selalu lupa akan bagaimana mengolah kekayaan yang ada ini dan dan bagaimana kita akan membekali anak cucu kita nantinya utuk meneruskan kelangsungan kehidupan bangsa ini. Kunci dari semua ini tetap hanyalah ilmu pengetahuan. Jadi, walaupun kita kaya akan sumber daya alam tetapi kita miskin akan sumber daya manusia yang mengusai IPTEK sama saja kita hidup dalam angan-angan kosong.
Ketiga, tingginya rasa gengsi banyak menghiasi sifat anak bangsa ini, ketika saya berada di Kandangan, yang membuat saya heran adalah siswa-siswinya sebagian besar bersepeda motor, dan kendaraa-kendaraan tersebut tidak bisa di golongkan pada kendaraan-kendaraan yang murah, karena semua itu termasuk kendaraan yang memilki harga jual tinggi. Yang menjadi kesimpulan dan pertanyaan saya adalah mereka bisa dikatakan dari keluarga yang mampu tetapi kenapa harga sepeda motor yang dinaiki anak-anak SMA tersebut tidak sebanding dengan betapa berharganya kesempatan untuk menimba ilmu, buktinya mereka ke sekolah ya ke sekolah, tetapi apa yang di dapatkannya? Hanya bertemu teman-temannya membicarakan lawan jenis, membicarakan akan main kemana sepulang sekolah, membicarakan berapa mahal harga motor mereka dan lain sebagainya. Jarang sekali di antara mereka yang membicarakan bagaimana pelajaran Fisika tadi, pelajaran Matematika dan lain-lain. Bahkan hingga guru yang mengajar pun disepelekan. Bagaimana mungkin pendidikan di Indonesia akan maju kalau pelaku atau orang yang diharapkan akan memiliki wawasan yang tinggi nantinya seperti itu.
Keempat, hingga ketiga alasan tersebut di ulas menjadi faktor pada alasan yang keempat ini yaitu kurangnya anak bangsa kita untuk studi banding atau sederhananya untuk memotivasi diri dengan melihat Negara-negara maju di dunia ini, seperti Amerika, Jepang, dan lain-lain serta tidak jauh adalah Negara tetangga kita yaitu Singapura, jika kita bandingkan dengan sejarah asal Negara kita, dengan kekayaan tanah air kita, Singapura jauh kalah dari negeri Indonesia ini, tetapi kenapa bisa menjadi Negara maju? Jawabannya sebenarnya bisa kita renungkan bersama yaitu jika kita punya kesadaran untuk membaca, mencari, dan mengembangkan ilmu pengetahuan bisa jadi kita mengalahkan Negara-negara maju saat ini.
Kelima, harus adanya komunikasi dan kegiatan timbal balik antara pelaku pendidikan dan penyelenggara pendidikan. Kita semua tidak bisa saling menyalahkan antara pelaku atau penyelenggara pendidikan, karena semua sama-sama salah dan sama-sama benar dan jalan yang harus kita tempuh adalah mengambil jalan tengah atas permasalahan-permasalah pendidikan yang ada. Misalanya, pengalaman saya ketika bersekolah di SMA N 3 Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan adalah buku-buku pelajaran yang ada sebagian besar tidak sesuai dengan kurikulum yang ada dan jumlahnya pun tidak memadai, hingga para guru berusaha sendiri untuk mencarikan meteri-meteri yang sesuai dengan atauran, walau hanya dengan memfoto copy materi-materi tersebut.
Dari inilah kita bisa bertanya kepada pemerintah, dimana dan mana buku-buku kami sebagai pelajar yang harapannya buku-buku tersebut bisa dijadikan jalan masuknya ilmu bagi pelaku pendidikan. Bahkan hingga fasilitas-fasilitas sekolah pun sangat berbeda jauh dengan sekolah-sekolah yang ada di kota-kota besar di Indonesia. Apakah ini bisa dikatakan sebagai pemerataan pendidikan di Indonesia.
Tetapi kita tidak boleh sepenuhnya menyalahkan pemerintah, kita sebagai pelaku atau orang yang merasakan dan menjalankan pendidikan juga harus benar-benar mempunyai semangat juang untuk mencari ilmu dan berusaha agar terjadi komunikasi antara pelaku dan penyelenggara pendidikan supaya terjadi timbal balik yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak.
Terakhir, yaitu kurangnya dorongan dan motivasi dari dalam diri, lingkungan dan pemerintah. Jika kita selalu bisa memotivasi diri akan pentingnya ilmu pengetahuan dan kita mampu bersifat loyal serta tidak fanatik sempit dan tidak berfikiran kedaerahan, adanya kesadaran bersama dari Sabang sampai Merauke untuk bersatu memajukan pendidikakan Indonesia dan pemerintah memberikan jalan, bisa kita bayangkan secara tidak lama Indonesia akan memiliki masyarakat yang berpendidikan dan berkualitas tinggi. Tetapi itu semua akan sia-sia jika kita selalu berfikiran sempit terhadap arti otonomi, HAM dan demokrasi yang saat ini menjadi ciri negeri ini. Kita selalu mengatasnamakan ketiga hal tersebut untuk memuaskan tujuan pribadi atau kelompok kita masing-masing tanpa memikirkan orang lain yang akhirnya mengakibatkan Indonesia menjadi terkotak-kotak, padahal tujuan yang sebenarnya dari ketiga hal tersebut tidak seperti itu. Yang harus kita lakukan adalah otonomi pendidikan untuk diri, daerah dan Negara kita, yang diharapkan mulai dari diri sendiri, daerah dan negeri mampu memilki anak bangsa yang berkualitas tinggi dan mampu dibanggakan di percaturan dunia. Kemudian menyadari bahwa setiap diri ini memiliki hak untuk merasakan pendidikan sesuai batas minimal yang diberikan oleh pemerintah dan benar-benar merasakan demokrasi demi kebebasan dalam mencari ilmu pengetahuan demi kemajuan bangsa. Maka dari itu pentingnya pendidikan dalam mehamami ketiga hal tersebut sangat penting demi terwujudnya masyarakat yang benar-benar madani dan berkualitas.
Keenam alasan tersebut saling berhubungan erat satu sama lain. Saat ini hanya ada dua pilihan yaitu kita sebagai bangsa Indonesia ingin maju atau tidak. Jika ingin maju, menjadi tugas kita bersama untuk mengubah gaya hidup konsumerisme yang digantikan dengan research, tidak berpandangan sempit dan haus akan ilmu pengetahuan, dan jangan terlalu bangga kita memiliki kekayaan yang melimpah ini, itu bukan warisan yang abadi untuk anak cucu kita, tetapi warisan yang abadi adalah ilmu pengetahuan, karena kekayaan alam tersebut sewaktu-waktu nantinya juga akan habis tidak seperti ilmu pengetahuan yang semakin lama semakin berkembang. Tidak saling menyalahkan, saling mengingatkan, dan menjaga persatuan serta saling bahu-membahu untuk meningkatkan taraf pendidikan di Indonesia adalah kunci utama untuk menjadi bangsa yang benar-benar merdeka
Tulisan ini semata-mata saya buat atas inspirasi yang saya dapatkan ketika melakukan program pertukaran pelajar kota Yogyakarta tahun 2007 ke Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Akhirnya penulis berharap tulisan ini tidak sia-sia dan bisa dibaca di kalangan masyarakat, pelajar dan para tokoh pendidikan kita dan bisa menjadi sedikit motivasi dalam diri akan pentingnya pendidikan agar tidak ada lagi Gubug Reot Di Atas Emas Hitam, melainkan Sebuah Istana Megah Di Atas Emas Hitam dan benar-benar tercipta masyarakat dan anak bangsa Indonesia sesuai dengan pesan Ki Hajar Dewantara yaitu “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut wuri Handayani” yaitu jika di depan kita bisa menjadi contoh, jika di tengah kita bisa menjadi orang yang memberikan bantuan dan jika kita berada di belakang kita bisa memberikan dorongan untuk kemajuan bersama. Tetap bersemangatlah wahai para anak Bangsa ini, hidup mati negeri di tangan kita.
Sering kita berpikir seberapa jauh tentang titik tujuan. Sering kita berpikir seberapa lama kita kan berjalan. Ataukah sering kita berpikir kapan kita butuh istirahat, walau hanya untuk sekedar meneguk segelas air, demi melepas dahaga. Tapi kadang kita sering lupa tentang sebuah rasa. Rasa yang memberikan kata “mengapa” Namun, ia tak pernah tahu jawaban tentang “mengapa” itu sendiri. Terlalu sering bermain logika, semakin hilang juga menikmati sebuah rasa. Hidup itu bukan tentang sebuah jarak atau seberapa lama kita akan mengembara. Karena hidup tak pernah ada jeda. Bisa jadi, titik yg kita pandang jauh itu sebenarnya sudah ada di depan kita. Karena hanya satu yang mampu menghentikan sebuah jarak, yaitu muara. Muara pada titik akhir. Tuhan Yang Maha Segalanya.
Kau siapkan ranselmu, kau lewati jalan setapak itu. Kau gapai puncak tertinggi di sana, ditemani senyummu. Lalu, jika kau sudah menggapai puncak tinggi itu. Apa yang kau cari?
Kau luangkan waktumu. Kau berikan energimu. Kau ajarkan ilmu pada orang-orang itu. Lalu, jika semua itu sudah kau lakukan. Apa yang kau cari?
Kau perhatikan kekasihmu, kau sanjung ia. Kau peluk mesra. Kau kirim pesan-pesan cinta. Lalu, jika sudah seperti itu. Apa yang kau cari?
Kau siapkan hadiah terindah untuk sahabatmu. Kau bercanda dengannya. Kau jaga rahasia-rahasia. Lalu, jika sudah begitu apa yang kau cari?
Kau datang di awal kelas. Kau debatkan sebuah materi tak terbatas. Kau unggulkan dirimu. Kau gapai selembar kertas. Jika sudah kau lakukan dengan tuntas. Apa yang kau cari?
Kau kejar jabatan itu. Kau singkirkan pesaingmu. Kau tingkatkan kompetensimu. Lalu, jika semua sudah jadi milikmu. Apa yang kau cari?
Kadang semua hanya seperti sebuah dongeng tak berisi, mengejar sisi-sisi yang banyak tak terkendali. Kemana harus mencari? Jangankan mencari, apa yang dicari saja belum dimengerti. Hampa ataukah isi?
Atau mungkin bisa jadi, apa yang dicari sudah ada di hati. Lalu, buat apa mencari lagi?
Kepergianmu meninggalkan cerita yang mendalam. Kepergiaanmu meninggalkan cerita yang tak berkesimpulan. Kepergianmu membawa rahasia yang belum terpecahkan. Kepergianmu membawa angan cita yang belum tersampaikan.
Dan kepergianmu selalu mendatangkan ruang rindu.
Rindu yang akan terobati dan engkau sendiri yang akan mengisi.
Hidup kadang seperti cerita fiksi. Tapi hidup tetaplah hidup.
Perjalanan yang beriring waktu yang penuh dengan misteri.
Lalu, apakah rindu kita juga begitu dalam untuk Sang pengatur cerita kehidupan?
Taufik Ismail, tak diragukan lagi dengan keahliannya. Karya-Karya pusinya yang begitu banyak dan mengandung kritik hingga romantisme. Saya senang membaca karya-karya beliau salah satunya adalah puisi “Kerendahan Hati”
Kerendahan Hati
(Taufik Ismail)
Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
Yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
Yang tumbuh di tepi danau
Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
Memperkuat tanggul pinggiran jalan
Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air
Tidaklah semua menjadi kapten
Tentu harus ada awak kapalnya….
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
Rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu….
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri
Karya luar biasa ini menyulutkan semangat yang luar biasa untuk menjadi manusia yang bermartabat karena kebermanfaatannya. Secara pribadi karya ini memberikan spirit yang luar biasa bagi saya. Bahasanya yang sederhana namun lugas, dapat dengan mudah dimengerti. Banyak nilai yang terkandung di dalamnya, dengan watak kemanusiaan yang menghamba pada Tuhan, dengan semangat memberikan manfaat kebaikan bagi sesama, “khairunnaas anfa’ahum linnaas” -sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain- satu spirit yang tersirat dalam karya luar biasa Sang Maestro ini.
Sebuah karya yang aku dedikasikan untuk saudaraku, yang saat ini sedang mengemban tugas jauh dari keluarga. Semoga Allah santiasa melindungi dan memberikan keselamatan padamu le.
“Sajak Rindu Untuk Sang Abdi”
Tahukah engkau makna merindu?
Pernahkah kau tahu tentang sebuah pesan sendu?
Hanya aku, kamu
Dan tentang semua rayuan merdu
Berbaur, mengalir, terukir
Pada rindu yang begitu menderu
Tahukah kau tentang pesan cinta yang tak terkata?
Rasanya seperti tercekik, hingga mendecit
Rasa yang begitu tak terkira
Terurai dan terbentang
Menyusur terowong ganas sang waktu
Kau ada bukan hanya sekedar ada
Kau ada bukan hanya karena tercipta
Apalagi hanya sekedar mengembara
Dan berkelana semata
Biarlah waktu yang kan membantu
Menemani, mencumbu mesra dirimu
Menyampaikan pesan rinduku melalui wahyu
Yang belaiannya begitu lembut mendayu
Hingga kau tahu bahwa ada pesanku untukmu
Mendakilah dengan kakimu yang kokoh
Meski langkah sering tergopoh
Menyusur jalan terjal yang kadang membuat ragamu roboh
Ini bukan tentang apa, siapa, mengapa dan bagaimana
Ini adalah tentang rasa yang sering kita lupa
Kau begini bukan karena ingin mengadu nyali
Apalagi diundi
Kau begini karena kompetensi
Maka, berikan dedikasi yang tinggi
Kau dipilih untuk mengabdi
Abdikan jiwa ragamu untuk negeri
Negeri yang kian hari kian ngeri
Mengembaralah sejauh kau mau
Tapi ingatlah selalu jalan untuk kembali
Lalu ceritakan pada generasi
Tentang cinta, kasih dan dedikasi yang tinggi
Salam rinduku untukmu, wahai sang abdi negeri
Kelak kau akan mengerti apa yang sebenarnya kau cari
Sampai berjumpa pada hari, dimana semua mudah untuk dimengerti