• Jarak dan muara

    Sering kita berpikir seberapa jauh tentang titik tujuan.
    Sering kita berpikir seberapa lama kita kan berjalan.
    Ataukah sering kita berpikir kapan kita butuh istirahat, walau hanya untuk sekedar meneguk segelas air, demi melepas dahaga.
    Tapi kadang kita sering lupa tentang sebuah rasa.
    Rasa yang memberikan kata “mengapa”
    Namun, ia tak pernah tahu jawaban tentang “mengapa” itu sendiri.
    Terlalu sering bermain logika, semakin hilang juga menikmati sebuah rasa.
    Hidup itu bukan tentang sebuah jarak atau seberapa lama kita akan mengembara. 
    Karena hidup tak pernah ada jeda.
    Bisa jadi, titik yg kita pandang jauh itu sebenarnya sudah ada di depan kita.
    Karena hanya satu yang mampu menghentikan sebuah jarak, yaitu muara.
    Muara pada titik akhir. Tuhan Yang Maha Segalanya.

    Aditya Rendy Artha
    6 Agustus 2015/ 12.22

  • Apa yang kau cari?

    Kau siapkan ranselmu, kau lewati jalan setapak itu. Kau gapai puncak tertinggi di sana, ditemani senyummu. Lalu, jika kau sudah menggapai puncak tinggi itu. Apa yang kau cari?

    Kau luangkan waktumu. Kau berikan energimu. Kau ajarkan ilmu pada orang-orang itu. Lalu, jika semua itu sudah kau lakukan. Apa yang kau cari?

    Kau perhatikan kekasihmu, kau sanjung ia. Kau peluk mesra. Kau kirim pesan-pesan cinta. Lalu, jika sudah seperti itu. Apa yang kau cari?

    Kau siapkan hadiah terindah untuk sahabatmu. Kau bercanda dengannya. Kau jaga rahasia-rahasia. Lalu, jika sudah begitu apa yang kau cari?

    Kau datang di awal kelas. Kau debatkan sebuah materi tak terbatas. Kau unggulkan dirimu. Kau gapai selembar kertas. Jika sudah kau lakukan dengan tuntas. Apa yang kau cari?

    Kau kejar jabatan itu. Kau singkirkan pesaingmu. Kau tingkatkan kompetensimu. Lalu, jika semua sudah jadi milikmu. Apa yang kau cari?

    Kadang semua hanya seperti sebuah dongeng tak berisi, mengejar sisi-sisi yang banyak tak terkendali. Kemana harus mencari? Jangankan mencari, apa yang dicari saja belum dimengerti. Hampa ataukah isi?

    Atau mungkin bisa jadi, apa yang dicari sudah ada di hati. Lalu, buat apa mencari lagi?

    Wallahu’alam

    Aditya Rendy Artha
    4 Agustus 2015/ 1.16 am

  • Ruang Rindu

    Kepergianmu meninggalkan cerita yang mendalam.
    Kepergiaanmu meninggalkan cerita yang tak berkesimpulan.
    Kepergianmu membawa rahasia yang belum terpecahkan.
    Kepergianmu membawa angan cita yang belum tersampaikan.
    Dan kepergianmu selalu mendatangkan ruang rindu.
    Rindu yang akan terobati dan engkau sendiri yang akan mengisi.
    Hidup kadang seperti cerita fiksi. Tapi hidup tetaplah hidup.
    Perjalanan yang beriring waktu yang penuh dengan misteri.
    Lalu, apakah rindu kita juga begitu dalam untuk Sang pengatur cerita kehidupan?
    Jawablah dengan nurani!
    Doa, untuk para terkasih dalam hidup kita,
    Sebagai wujud cinta pada Sang Pencipta
    Dari para hamba yang senantiasa mengembara

    Aditya Rendy Artha
    1 Agustus 2015

  • Taufik Ismail, tak diragukan lagi dengan keahliannya. Karya-Karya pusinya yang begitu banyak dan mengandung kritik hingga romantisme. Saya senang membaca karya-karya beliau salah satunya adalah puisi “Kerendahan Hati”

    taufiq-ismail-ajak-urunan-bantu-palesti-ba7b78

    Kerendahan Hati

    (Taufik Ismail)

    Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
    Yang tegak di puncak bukit
    Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
    Yang tumbuh di tepi danau

    Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
    Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
    Memperkuat tanggul pinggiran jalan

    Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
    Jadilah saja jalan kecil,
    Tetapi jalan setapak yang
    Membawa orang ke mata air

    Tidaklah semua menjadi kapten
    Tentu harus ada awak kapalnya….
    Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
    Rendahnya nilai dirimu

    Jadilah saja dirimu….
    Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri


    Karya luar biasa ini menyulutkan semangat yang luar biasa untuk menjadi manusia yang bermartabat karena kebermanfaatannya. Secara pribadi karya ini memberikan spirit yang luar biasa bagi saya. Bahasanya yang sederhana namun lugas, dapat dengan mudah dimengerti. Banyak nilai yang terkandung di dalamnya, dengan watak kemanusiaan yang menghamba pada Tuhan, dengan semangat memberikan manfaat kebaikan bagi sesama, “khairunnaas anfa’ahum linnaas” -sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain- satu spirit yang tersirat dalam karya luar biasa Sang Maestro ini.

    Gamol, 21 Maret 2016

    Rendy Artha

  • Sebuah karya yang aku dedikasikan untuk saudaraku, yang saat ini sedang mengemban tugas jauh dari keluarga. Semoga Allah santiasa melindungi dan memberikan keselamatan padamu le.

    “Sajak Rindu Untuk Sang Abdi”

     

    Tahukah engkau makna merindu?

    Pernahkah kau tahu tentang sebuah pesan sendu?

    Hanya aku, kamu

    Dan tentang semua rayuan merdu

    Berbaur, mengalir, terukir

    Pada rindu yang begitu menderu

    Tahukah kau tentang pesan cinta yang tak terkata?

    Rasanya seperti tercekik, hingga mendecit

    Rasa yang begitu tak terkira

    Terurai dan terbentang

    Menyusur terowong ganas sang waktu

    Kau ada bukan hanya sekedar ada

    Kau ada bukan hanya karena tercipta

    Apalagi hanya sekedar mengembara

    Dan berkelana semata

    Biarlah waktu yang kan membantu

    Menemani, mencumbu mesra dirimu

    Menyampaikan pesan rinduku melalui wahyu

    Yang belaiannya begitu lembut mendayu

    Hingga kau tahu bahwa ada pesanku untukmu

    Mendakilah dengan kakimu yang kokoh

    Meski langkah sering tergopoh

    Menyusur jalan terjal yang kadang membuat ragamu roboh

    Ini bukan tentang apa, siapa, mengapa dan bagaimana

    Ini adalah tentang rasa yang sering kita lupa

    Kau begini bukan karena ingin mengadu nyali

    Apalagi diundi

    Kau begini karena kompetensi

    Maka, berikan dedikasi yang tinggi

    Kau dipilih untuk mengabdi

    Abdikan jiwa ragamu untuk negeri

    Negeri yang kian hari kian ngeri

    Mengembaralah sejauh kau mau

    Tapi ingatlah selalu jalan untuk kembali

    Lalu ceritakan pada generasi

    Tentang cinta, kasih dan dedikasi yang tinggi

    Salam rinduku untukmu, wahai sang abdi negeri

    Kelak kau akan mengerti apa yang sebenarnya kau cari

    Sampai berjumpa pada hari, dimana semua mudah untuk dimengerti

    Jogjakarta, 26 Agustus 2015

    Rendy Artha